Jakarta — Braille merupakan sistem penulisan sentuh untuk memudahkan penyandang tunanetra dalam membaca dan mengenal huruf. Di mana sistem braille ini menggunakan titik-titik menonjol yang mewakili huruf-huruf alfabet dan juga angka. Braille juga berisi padanan untuk tanda baca, termasuk simbol untuk menunjukkan pengelompokan huruf. Penyandang tunanetra bisa membaca braille dengan menggerakkan tangan dari kiri ke kanan pada sepanjang baris. Proses membaca ini biasanya melibatkan kedua tangan, dan jari telunjuk umumnya yang melakukan pembacaan. Kecepatan rata-rata dalam membaca sistem penulisan braille biasanya berkisar 125 kata per menit, namun kecepatan yang lebih tinggi hingga 200 kata per menit juga dimungkinkan tergantung pembacanya itu sendiri.

Melalui alfabet braille ini, penyandang tunanetra dapat meninjau dan mempelajari kata-kata tertulis. Mereka juga bisa menyadari konvensi tertulis yang berbeda seperti ejaan, tanda baca, pembuatan paragraf, hingga catatan kaki. Salah satu bagian terpenting dari braille ini ialah memberikan akses kepada penyandang tunanetra terhadap berbagai bahan bacaan, baik itu bacaan rekreasi dan hiburan, pendidikan, laporan keuangan, menu restoran dan sebagainya. Melalui sistem penulisan braille ini juga penyandang tunanetra dimungkinkan untuk menekuni hobi dan pengayaan budaya dengan materi yang sesuai seperti partitur musik, himne, kartu remi, permainan papan, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa sistem braille telah berhasil membantu penyandang tunanetra dalam mengenal huruf dengan rangkaian tanda-tanda rasional yang dibuat untuk ujung jari mereka, dan bukan meniru tanda-tanda yang hanya bisa dilihat secara visual.

Leave a Comment