Teknologi terus berkembang pesat, dan di tahun 2030, kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan ada di mana-mana. Menghadapi masa depan ini, pertanyaan besarnya bukan lagi tentang seberapa canggih alat yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menyiapkan siswa agar tidak hanya bisa mengoperasikan alat, tetapi menjadi “pengendali” teknologi tersebut.
Semangat inilah yang melatarbelakangi suksesnya webinar EdTech Webinar: Integrasi Computational Thinking Tanpa Komputer di Semua Mata Pelajaran yang telah dilaksanakan pada Rabu, 28 Januari 2026 lalu melalui Zoom Meeting.
Dipandu oleh moderator kak Desti Meliana R, webinar ini menghadirkan narasumber ahli, Bapak Muhammad Suriyanto, S.Pd., seorang Guru IPA, Fasilitator Koding KA Kemendikdasmen, sekaligus Gemini Certified Educator dan Official Trainer HTTID.
Bagi Anda yang sempat terlewat, berikut adalah rangkuman wawasan berharga dari webinar kemarin.
Mitos: Computational Thinking = Belajar Komputer?
Salah satu poin pembuka yang paling menarik adalah pelurusan miskonsepsi bahwa Computational Thinking (CT) itu harus selalu tentang koding atau laboratorium komputer.
Pak Anto (sapaan akrab narasumber) menekankan bahwa CT adalah metode pemecahan masalah yang meniru cara berpikir ilmuwan komputer, namun bisa diterapkan tanpa komputer sama sekali (Unplugged). Mengapa unplugged? Karena esensi CT ada pada kognisi (otak), bukan pada gadget. Ini menjadi kabar baik bagi guru di seluruh pelosok negeri untuk tetap bisa mencetak generasi maju tanpa terhalang infrastruktur.
4 Pilar Utama dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam sesi materi, peserta diajak membedah 4 fondasi CT dengan analogi yang sangat membumi:
- Dekomposisi (Strategi “Potong-Potong”): Memecah masalah besar menjadi kecil. Contohnya seperti panitia yang memecah tugas besar penyelenggaraan Pentas Seni Sekolah menjadi divisi-divisi kecil.
- Pengenalan Pola (Strategi “Detektif”): Melihat tren atau kesamaan masalah. Contoh simpelnya adalah mengenali pola perkalian 5.
- Abstraksi (Strategi “Fokus Utama”): Memilah mana informasi penting dan mana yang hanya “hiasan”. Seperti Google Maps yang hanya menampilkan jalan penting, bukan pohon atau tiang listrik di pinggir jalan.
- Algoritma (Strategi “Resep Sukses”): Langkah logis berurutan. Sesederhana resep membuat kopi instan agar rasanya pas.
Ternyata Bisa Masuk ke Semua Mapel!
Bagian paling aplikatif dari webinar ini adalah contoh konkret integrasi CT ke mata pelajaran non-TIK. Berikut beberapa inspirasi yang dibagikan:
- Agama: Menggunakan algoritma untuk mengurutkan kartu tata cara ibadah.
- Bahasa Indonesia: Menulis teks prosedur (algoritma) pembuatan sesuatu.
- Sejarah/IPS: Melakukan dekomposisi pada peristiwa “Perang Diponegoro” dengan membedahnya menjadi faktor ekonomi, politik, dan agama.
- Sains (Kimia/Fisika): Mengikuti resep pencampuran larutan (algoritma) atau membuat diagram benda bebas (abstraksi).
Tips untuk Guru: Jangan Tambah Beban, Tapi Ubah Cara
Banyak guru khawatir CT akan menambah beban kurikulum. Namun, narasumber menegaskan: “Jangan Menambah Materi”.
Tips utamanya adalah mengintegrasikan CT ke materi yang sudah ada, karena CT adalah cara mengajar, bukan materi baru. Guru juga didorong untuk membudayakan pertanyaan “Kenapa?” dan mengubah pola pikir tentang kesalahan. Kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan “bug” yang harus diperbaiki (debugging), untuk melatih mental pantang menyerah.



